Menggapai Atap Sumatera
"Is not the mountain we're conquer, but our self"
-Sir Edmund Hillary-
Bukan
Gunung yang harus kita taklukan, tapi diri kita sendirilah yang
semestinya ditaklukan. Sebuah kutipan dari seorang pendaki pertama yang
menginjakkan kaki di puncak tertinggi dunia, puncak Gunung Everest.
Kutipan yang seakan membiusku untuk melakukan perjalanan pendakian ke
puncak-puncak tertinggi di Indonesia. Dan kali ini pilihanku adalah atap
Sumatera, puncak Indrapura Gunung Kerinci dengan ketinggian 3805 meter
diatas permukaan laut. Gunung ini merupakan gunung berapi aktif
tertinggi di Indonesia, gunung tertinggi kedua setelah puncak Cartenz di
Papua.
Penghujung Oktober 2015, perjalanan yang telah aku
rencanakan akhirnya terlaksana. Awalnya Aku cukup kesulitan mencari
seorang teman perjalanan menuju atap pulau sumatera ini. Meskipun aku
sudah beberapa kali melakukan pendakian, tapi kali ini akan menjadi
sangat berbeda karena pendakian ke Gunung Kerinci baru pertama kali aku
lakukan. Mengingat aku sangat awam dengan track gunung ini, maka sangat
tidak mungkin untuk melakukan pendakian seorang diri. Menurut beberapa
artikel perjalanan yang Aku baca di Internet dan menurut cerita
pengalaman kawan-kawan pendaki, Gunung Kerinci merupakan salah satu
gunung dengan jalur yang cukup sulit dan sangat melelahkan.
Pagi
hari ke dua puluh enam bulan oktober 2015, aku baru saja menyelesaikan
pendakian dari Gunung Marapi di Sumatera barat dan baru tiba di rumah ku
di Kota Payakumbuh, masih di Provinsi Sumatera Barat. Telepon genggamku
berdering, ternyata kawan lama ku yang menelepon, namanya Kiting. Aku
berbincang-bincang beberapa menit dengan Kiting, lalu aku mengutarakan
rencana perjalananku kepadanya dan bermaksud mengajaknya. Kiting memang
orang yang cukup aktif di dunia pendakian dan punya jam pendakian yang
lebih banyak dari ku. Ternyata Kiting juga punya rencana yang sama dan
akhirnya kami memutuskan untuk melakukan perjalanan ini bersama-sama
tiga hari lagi. Setelah pendakian dari Gunung Marapi, Aku rasa tiga hari
adalah waktu yang cukup untuk beristirahat dan memulihkan tenaga ku
untuk melakukan pendakian berikutnya, ke Gunung Kerinci.
Tepat jam
tujuh pagi Kiting sudah menunggu ku di depan rumahku dengan ditemani
sepeda motornya dan tas gunung tak terlalu besar. Kali ini aku akan
menempuh perjalanan dari Kota Payakumbuh menuju Kabupaten Kerinci dengan
mengendarai sepeda motor. Jarak dari Kota Payakumbuh ke Kabupaten
Kerinci sekitar 300 km, sebenarnya memang tidak disarankan mengendarai
motor dengan jarak sejauh itu, tapi karena memang Aku dan Kiting juga
seorang penghobi
touring, maka sudah biasa bagi kami menempuh perjalanan jauh dengan sepeda motor.
Perjalanan
menuju Kabupaten Kerinci kami tempuh dalam waktu kurang lebih 12 jam.
Jalan yang kami tempuh pun beragam, mulai dari Kota Payakumbuh kami
bertolak ke Kota Batusangkar, sebuah Kota Budaya di Sumatera Barat,
dikota ini kami melalui sebuah istana megah dengan atap yang runcing,
Istano Baso Pagaruyuang namanya, lalu melalaui perkebunan teh dan danau
kembar di kabupaten solok dengan udara yang sangat dingin dan sejuk.
- Danau Kembar di Alahan Panjang, Kab. Solok yang kami lalui
Sekitar
pukul tujuh malam, kami disambut kabut yang cukup pekat ketika memasuki
kawasan perkebunan teh Kayu Aro. Perkebunan teh Kayu Aro ini merupakan
salah satu perkebunan teh tertua dan terbesar di Asia dan penghasil
salah satu teh hitam terbaik di dunia. Tak disangka kebanyakan teh hitam
terbaik yang beredar di Eropa dan Amerika itu berasal dari disini, dari
Indonesia.

- Gunung Kerinci dan kebun teh Kayu Aro
Basecamp dan
homestay tujuan kami berada dalam kawasan perkebunan teh Kayu Aro ini. Kami segera menuju
homestay Paiman.
Tempat ini sekaligus menjadi basecamp dan merupakan tempat yang sangat
direkomendasikan untuk para pendaki Gunung Kerinci karena jaraknya yang
tak terlalu jauh dari jalan raya dan harga yang cukup terjangkau.
Keesokan harinya, sekitar pukul 7 pagi Aku dan Kiting bertolak menuju
pintu rimba Gunung Kerinci dengan menumpangi sebuah mobil elf yang
ternyata sudah disediakan oleh pihak Homestay Paiman. Cukup dengan
membayar ongkos 10 ribu rupiah para pendaki akan diantarkan langsung
menuju pintu rimba yang berjarak sekitar 5 km dari homestay. Di homestay
Paiman aku berkenalan dengan beberapa orang pendaki asal Bandung dan
serombongan pendaki dari Malang yang sedang melakukan ekspedisi. Inilah
makna dari sebuah perjalanan yang sebenarnya, bertemu dengan orang-orang
baru dan melakukan perkenalan demi perkenalan dengan orang-orang yang
dulu tak pernah kita tahu, menambah jaringan pertemanan dan menyambung
tali persaudaraan.
- Mengabadikan momen menjelang pendakian di dekat pintu rimba
Setibanya
di pintu rimba, Aku dan Kiting merapikan peralatan pendakian dan
melakukan pemanasan dan peregangan sebelum melakukan pendakian. Ini
sangat penting mengingat jalur yang akan kita lalui ketika mendaki cukup
sulit dengan tanjakan dan membawa beban berat dipunggung, sangat
berbahaya jika tidak melakukan peregangan otot terlebih dahulu karena
akan menyebabkan otot terkejut dan mengalami kram dan cidera lainnya.
Sembari bersiap-siap, Aku berbincang-bincang dengan seorang pemuda yang
belakangan aku ketahui adalah seorang porter Gunung Kerinci yang juga
akan melakukan pendakian bersama tamunya pada pagi itu. Aku dan Kiting
sengaja tidak menggunakan jasa porter karena kami hanya pergi berdua dan
tak terlalu banyak membawa barang bawaan. Dari percakapan singkat tadi
aku mengetahui satu hal yang cukup unik, ternyata pemuda ini bisa
mengerti dan paham dengan tiga bahasa daerah yang berbeda, bahkan dia
dengan fasih bisa mengucapkannya. Bahasa pertama yang dia kuasai tentu
saja bahasa orang asli Kerinci, bahasa kedua adalah bahasa daerah
Minangkabau, dan yang ketiga adalah bahasa Jawa. Itulah kenapa bisa aku
berkomunikasi dengan pemuda ini dengan bahasa asli daerahku, bahasa
Minangkabau. Ternyata setelah aku tanya, Pemuda ini merupakan orang asli
Jawa, dia dan orang tuanya pindah dari Jawa ke Kerinci karena
transmigrasi dan jadi paham bahasa Kerinci. Karena di Kerinci ini juga
banyak orang Minangkabau dan letaknya tak jauh dari Provinsi Sumatera
Barat, maka kebanyakan bahasa Minang juga dipakai di daerah ini. Sungguh
sebuah keberagaman dan kekayaan dari negeri ini yang patut kita jaga.
Sekali lagi aku bangga dengan berbagai bahasa dan budaya dari negeri ku
ini, Indonesia.

- Salah satu satwa di Rimba Kerinci
Aku
dan Kiting mulai menapaki langkah demi langkah menuju rimba gunung
Kerinci. Cuaca cukup cerah pagi ini dan untungnya semalam tidak turun
hujan dan jalur pendakian tidak terlalu basah. Rimba Kerinci ini
termasuk kedalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat dan ternyata
menjadi habitat asli dari Harimau Sumatera yang hampir punah. Aku
sedikit merinding ketika mendengar cerita dari porter muda ini bahwa tak
jarang dia melihat harimau sumatera di sekitar rimba kerinci. Tapi aku
kembalikan pada keyakinanku bahwa niat baik pasti akan menemui jalan
baik pula.

- Pos pertama, bangku panjang
Setelah
berjalan sekitar 2 jam, akhirnya Kami tiba di pos pemberhentian
pertama. Aku beristirahat sejenak dan meminum beberapa teguk air putih.
Tidak terlalu banyak, cukup untuk membasahkan mulut dan melepas dahaga
saja, karena kalau terlalu banyak minum air selama perjalanan perut akan
menjadi kembung. Aku mengeluarkan sepotong gula aren yang menurut
orang-orang tua di kampung ku dapat menambah tenaga, semacam
doping alami.

- Hutan Belantara Kerinci
Aku
dan Kiting sepakat untuk melanjutkan perjalanan kembali, kami tetap
bersama sama, jika ada satu diantara kami yang kelelahan, kami saling
menunggu dan bersabar dalam melalui jalur yang cukup sulit dari gunung
Kerinci ini. Karena medan yang cukup sulit dan baru pertama kali kami
lalui, kami sedikit ketinggalan dengan porter muda tadi yang langkahnya
cukup cepat karena telah paham betul jalurnya dan sudah puluhan kali
mendaki ke gunung ini. Dari pos satu menuju pos dua kami tempuh dalam
waktu kurang lebih satu jam dengan jalur yang masih belum terlalu sulit.
Setelagh beristirahat sejenak di pos dua, Kami kembali melanjutkan
perjalalan menuju pos tiga, disinilah ketakutanku bermula. Kabut cukup
tebal menutupi rimba belantara Kerinci. Aku dan Kiting tetap berjalan
pada jalur yang terlihat dan tetap saling menolong jika satu diantara
kami mengalami kesulitan.

- Akar dari pohon tua di jalur pendakian
Konon
menurut cerita orang-orang Kerinci, Harimau Sumatera kerap melalui
hutan antara pos dua menuju pos tiga. Aku terus berdoa dan tetap
meluruskan niat baikku dengan selalu berpikiran positif. Tidak
mengganggu alam sekitar dan tidak bertindak ceroboh adalah caraku untuk
tetap berpikir positif. Akhirnya sekitar pukul 12 siang aku tiba di pos 3
dan beristirahat sejenak dan melakukan ibadah shalat dzuhur. Perjalanan
selanjutnya menuju Shelter satu, di pos tiga aku kembali bertemu dengan
seorang porter muda tadi dan dengan beberapa pendaki yang sedang dalam
perjalanan turun. Kami saling menyapa dan saling berbagi makanan kecil.
Aku berkenalan dengan dua orang pendaki dari Medan dan
berbincang-bincang. Sungguh sangat hangat sambutan orang-orang baru di
tengah rimba belantara ini, saling menawarkan kopi dan saling berbagi
cerita dengan hangat sedikit mengobati lelah setelah mendaki. Aku
berbincang-bincang dengan Togar, salah seorang pendaki dari Medan tadi.
Aku menanyakan kepada Togar yang telah kembali dari puncak Kerinci
tentang cuaca di atas puncak.

- Berhenti dan berbincang-bincang dengaan pendaki lain yang dalam perjalanan turun
"Bah,
pas Aku jalan ke puncak sama teman ku ini, Aku diserang badai. Kabut
tebal kali tadi pagi pas kami muncak, Kawanku tak sanggup, yasudah tak
jadi aku ke puncak, kasihan aku sama temanku". Dengan logat batak yang
khas Togar bercerita.
"Wah sayang sekali ya Bang, nggak jadi sampai puncak", sahutku pada Togar.
"Tak
apalah, yang penting aku sudah coba track ini, sama teman baik ku pula,
itu yang terpenting menurutku, kebersamaannya. Puncak itu urusan
belakangan". Togar melanjutkan.
Dari percakapan singkat dengan
Togar aku menarik pelajaran yang dalam sekali, bahwa dalam suatu
perjalanan bukanlah tujuan yang harus kita kedepankan. Proses lah yang
harus kita utamakan, jika proses yang kita lakukan itu baik, maka hasil
yang akan kita dapatkan akan baik pula, terlepas dari tujuan perjalanan
kita. Dan dalam sebuah pendakian, bukanlah puncak yang harus kita
paksakan, tapi kebersamaan dengan kawan sesama pendaki, puncak hanyalah
bonus dari sebuah pendakian.

- Batu Lumut, Tempat sumber air

- Shelter 1
Aku
dan Kiting kembali melanjutkan perjalanan, kami berpamitan dengan Togar
dan para pendaki lain yang hendak turun. Medan yang kami lalui dari
shelter satu menuju shelter dua kali ini jauh lebih sulit, tanjakan yang
panjang dan nyaris tanpa jalan mendatar. Tenagaku benar-benar terkuras
di jalur ini, aku benar-benar kelelahan. Tapi Kiting kembali
menyemangatiku untuk melanjutkan perjalanan. Sekitar pukul 2 siang Kami
sampai di shelter 1 dan melanjutkan perjalanan ke shelter dua setelah
beristirahat sebentar.

- Terowongan Akar
Ketika
sampai di shelter dua sekitar pukul 3 sore, Aku lihat beberapa tenda
sudah berdiri disana, ternyata itu adalah tenda milik kawan-kawan
pendaki dari Bandung yang kami temui di homestay paiman semalam. Aku dan
Kiting kembali ditawari secangkir kopi hangat dan sepotong roti coklat.
Aku berhenti dan beristirahat sejenak, kembali aku bertemu dengan
porter muda tadi, si porter muda menyarankan kami untuk mendirikan tenda
di shelter tiga yang beraada sekitar dua jam perjalanan dari shelter
dua ini. Jika kami mendirikan tenda di shelter dua, maka akan cukup jauh
untuk mencapai puncak pada pagi hari besok.Aku dan Kiting memutuskan
untuk melanjutkan perjalanan ke shelter tiga. Disinilah puncak kesulitan
dari track gunung kerinci ini, jalur yang sangat curam dan diawali
dengan sebuah terowongan akar-akar pohon yang sepintas sangat mirip goa.
Disini kesabaran ku benar-benar diuji, tak jarang aku mengeluh karena
jalur yang sangat sulit ini, tapi kembalo lagi aku menyadari bahwa
mengeluh tidaklah ada gunanya dan hanya buang-buang tenaga. Aku dan
Kiting akhirnya bisa melihat pohon-pohon sudah sedikit jarang, pertanda
shelter tiga sudah dekat. Sekitar pukul 5 sore, akhirnya kami sampai di
Shelter tiga. Kami segera mendirikan tenda karena sepertinya sebentar
lagi akan turun hujan dan hari sudah semakin gelap. Jika mendirikan
tenda di shelter tiga ini kita harus sangat hati-hati dan mengikatkan
tali tenda ke akar pohon-pohon kecil jika tak mau tenda tercabut oleh
angin badai yang sewaktu-waktu bisa datang di ketinggian ribuan meter
diatas permukaan laut ini.

- Menuju Shelter 3

- Shelter 3 Gunung Kerinci
Setelah mendirikan tenda dan merapikan barang-barang bawaan. Kami segera memasang
flysheet
untuk mengantisipasi kebocoran tenda jika sewaktu-waktu terjadi hujan,
sedia payung sebelum hujan, istilah pepatahnya. Dan ternyata benar,
malam kami di shelter tiga terasa cukup panjang karena ada badai gunung
yang dan hujan yang cukup deras, untunglah kami sudah mengantisipasi.

- Summit Attack ditemani dinginnya udara kerinci

- Kabut mulai mendatangi
Tepat pukul 3 pagi aku dibangunkan oleh Kiting untuk bersiap-siap melakukan
summit-attack atau
perjalanan menuju puncak. Aku keluar dari tenda dan langsung merasakan
kulitku ditusuk oleh dinginnya udara dan langsung menghujam sampai
ketulangku, benar-benar dingin. Aku segera mengenakkan dua lapis baju
dan jaket, sarung tangan serta kupluk sebagai penutup kepala dan
telinga. Telinga dangat penting untuk ditutup jika dalam keadaan udara
yang sangat dingin ini karena telinga merupakan bagian tubuh yang cukup
sensitif. Beberapa saat setelah itu tenda kami di kunjungi oleh porter
muda tadi, ternyata dia dan rombongan pendaki dari Bandung telah memulai
perjalanan dari shelter dua sejak pukul 2 pagi. Aku dan Kiting
Memutuskan untuk menuju puncak bersama dengan porter ini karena dia
sudah paham dan tahu betul
track menuju puncak. Dikarenakan
kabut yang tebal dan jalan yang banyak bercabang dan bebatuan curam yang
berbahaya, sangat tidak disarankan mendaki tidak dengan orang yang tahu
jalan, suatu keberuntungan bagi kami bertemu dengan porter muda yang
baik ini. Kami mulai berjalan meninggalkan tenda dan hanya membawa satu
ransek kecil berisi sebotol air dan beberapa cemilan, dan tentu saja
yang tak boleh tertinggal
, doping alami ku, gula aren.

- Berhenti sejenak

- Mentari mulai keluar
Summit-attack
menuju atap sumatera ini benar-benar sulit. Jalur yang sangat curam dan
cadas yang cukup panjang sangat menguras tenaga. Setelah berjalan
sekitar dua jam, matahari mulai keluar dari tidurnya dan perlahan mulai
menerangi. Aku yang saat itu sedang berhenti sejenak begitu takjub
menyaksikan keindahan itu. Puncak sudah terlihat, kurang lebih satu jam
lagi kami akan sampai menuju puncak. Kami terus berjalan mendaki cadas
kerinci dan sejenak matahari kembali menghilang karena ditutupi kabut
yang cukup pekat dan tebal. Sekitar pukul 7 pagi, akhirnya Kami
menginjakkan kaki di titik tertinggi pulau sumatera, di puncak gunung
api tertinggi di Indonesia, di ketinggian 3805 meter diatas permukaan
laut. Perjalanan panjang itu terbayar sudah, lelahku seakan hilang
ketika sampai disini.

- Menuju Puncak

- Cadas Kerinci

- Kabut menyambut
Kabut
yang pekat tadi perlahan mulai hilang dan menyibak di ujung barat saja
gumpalan awan-awan lembut, tepat disamping aku berdiri langsung Aku
saksikan curamnya kawah Gunung Kerinci ini. Disisi selatan aku lihat
dari kejauhan Danau Gunung Tujuh yang merupakan Danau Air Tawar
tertinggi di Asia Tenggara. Aku takjub dengan segala keindahan ini, dari
puncak tertinggi sumatera ini aku menyadari bahwa manusia hanyalah se
titik kecil dari alam dan tak ada yang perlu di sombongkan. Dari
perjalanan ini aku belajar bahwa sebuah proses yang baik akan
mendapatkan hasil yang baik pula. Aku juga belajar tentang sebuah
kebersamaan, tentang pertemuan dengan orang-orang baru, tentang
kesabaran, tentang menaklukkan ego, dan tentu saja yang paling penting
adalah tentang bersyukur. Sungguh perjalanan yang luar biasa memberi
banyak pelajaran berharga. Tapi yang terpenting, perjalananku akan
sangat indah jika aku sudahi dengan perjalanan pulang yang baik pula,
karena kemanapun Aku berjalan, tujuan utamaku tak lain adalah pulang ke
rumah dengan selamat.

- Sebuah Bonus dari perjalanan, Lembutnya awan dari Atap Sumatera

- Sebuah Kebanggaan menjadi bagian dari Bangsa ini, Indoneisa

- Sejenak menikmati pemandangan di Atap Sumatera

- Dan Pulang adalah tujuan akhir
****NOTE : Jangan Lupa Follow instagram @baratdaya_ untuk melihat foto-foto terbaik dari ku.
0 komentar: